ONO DILAKONI, GAK ONO YO DI TINGGAL NGOPI 

Gresik, Timurpos.co.id – Tahun 2026 belum genap berumur panjang, tetapi rasa pening sudah lebih dulu menyergap banyak kepala desa. Bukan karena begadang, bukan pula karena cuaca yang tak menentu, melainkan karena satu hal yang sama-sama mereka pegang di meja kerja: angka Dana Desa yang menurun drastis. Dana yang selama ini menjadi sandaran pembangunan desa kini terasa kempis. Bahkan di banyak tempat, bukan sekadar turun, melainkan seperti terjun bebas. Maka, tanpa dikomando, lahirlah istilah yang beredar dari balai desa ke warung kopi: 2026 adalah tahun pusing nasional para kepala desa.

Selama hampir satu dekade, Dana Desa menjadi denyut nadi kehidupan desa. Jalan lingkungan, irigasi sawah, posyandu, bantuan sosial, hingga program padat karya—semuanya tumbuh dari dana ini. Dana Desa bukan hanya soal fisik, tetapi juga stabilitas sosial. Ketika anggaran tersedia, desa punya ruang bernapas. Ketika anggaran menyusut, desa seperti dipaksa menahan napas lebih lama.

Penurunan Dana Desa 2026 tentu tidak muncul tanpa sebab. Pemerintah pusat menyebutkan berbagai alasan: pengetatan fiskal, efisiensi anggaran, hingga penyesuaian prioritas nasional. Namun di tingkat desa, ada satu dugaan kuat yang terus diperbincangkan: menguatnya program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) disinyalir menjadi faktor utama bergesernya alokasi anggaran, termasuk Dana Desa.

Program MBG, misalnya, adalah kebijakan besar dengan anggaran jumbo. Negara ingin memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas melalui asupan gizi yang memadai. Secara tujuan, ini mulia dan strategis. Namun dalam praktik anggaran, program sebesar ini tentu membutuhkan ruang fiskal yang luas. Dan seperti hukum alam anggaran, ketika satu pos membesar, pos lain berisiko menyusut. Dana Desa diduga kuat menjadi salah satu “korban penyesuaian”.

Hal serupa terjadi pada Kopdes Merah Putih. Program ini digadang-gadang sebagai penguatan ekonomi desa berbasis koperasi, sejalan dengan semangat kemandirian. Namun alih-alih memperkuat Dana Desa yang sudah ada, skema Kopdes justru hadir sebagai program terpisah dengan pembiayaan tersendiri. Di lapangan, banyak kepala desa merasa “dibebani peran” tanpa diiringi dukungan anggaran yang sepadan. Desa diminta terlibat, mendukung, bahkan menyiapkan ekosistem, sementara Dana Desa justru menyusut.

Di sinilah ironi itu terasa. Desa dijadikan panggung utama program nasional, tetapi karpet anggarannya ditarik perlahan. Kepala desa diposisikan sebagai ujung tombak, sekaligus tameng pertama ketika kebijakan menuai keluhan. Warga bertanya mengapa jalan tak diperbaiki, mengapa bantuan berkurang, mengapa honor kader dipangkas. Kepala desa hanya bisa menjawab dengan senyum kecut dan kalimat klasik: anggarannya turun.

Dampak penurunan Dana Desa tidak berhenti pada pembangunan. Kesejahteraan kepala desa dan perangkat desa ikut tergerus. Penghasilan tetap (siltap) yang selama ini menjadi tumpuan hidup sering kali tersendat. Di beberapa desa, pencairan molor, bahkan harus dicicil. Padahal beban kerja tidak pernah berkurang. Administrasi makin rumit, laporan makin detail, tuntutan transparansi makin tinggi. Profesionalisme diminta naik, sementara kesejahteraan justru ditekan.

Situasi ini membuat kepala desa berada di posisi paling tidak nyaman. Mereka harus patuh pada regulasi, sekaligus menjaga harmoni sosial. Mereka harus menjelaskan kebijakan pusat yang tidak mereka buat, tetapi dampaknya harus mereka tanggung. Ketika program MBG dan Kopdes Merah Putih berjalan, desa diminta mendukung penuh. Namun ketika Dana Desa menyusut, desa diminta memahami kondisi negara. Pada titik ini, kepala desa benar-benar bekerja di ruang abu-abu antara idealisme dan keterpaksaan.

Lebih jauh, penurunan Dana Desa berisiko memperlebar ketimpangan. Desa yang sudah kuat secara ekonomi mungkin masih bisa bertahan. Tetapi desa miskin, desa terpencil, dan desa dengan sumber daya terbatas akan semakin tertinggal. Padahal semangat awal Dana Desa adalah pemerataan pembangunan, bukan kompetisi bertahan hidup.

Tahun 2026 seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Program nasional seperti MBG dan Kopdes Merah Putih perlu berjalan, tetapi tidak dengan mengorbankan fondasi desa. Sinergi seharusnya berarti saling menguatkan, bukan saling melemahkan. Desa bukan sekadar pelaksana, melainkan mitra strategis negara.

Jika desa terus dipaksa beradaptasi dengan anggaran yang menyusut, jangan heran jika kelelahan struktural mulai terasa. Pusing para kepala desa hari ini bukan sekadar keluhan, melainkan sinyal. Sinyal bahwa pembangunan yang sehat tidak bisa dibangun dengan memindahkan beban ke level paling bawah.

Sebab ketika desa pusing, sesungguhnya negara sedang diuji dari akarnya. Dan akar yang lemah, sekuat apa pun batangnya, pada akhirnya akan rapuh juga.

Penulis : Miftahul Huda ( ketua DPC PAPDESI GRESIK)

MHQ 2026 GP Ansor Desa Bangun Semarakkan Isra’ Mi’raj dan Harlah NU ke-103, Cetak Generasi Qur’ani Sejak Dini

Bangun, Timurpos.co.id – Semangat memuliakan Al-Qur’an dan membangun karakter generasi muda kembali bergema di Desa Bangun, Kecamatan Pungging. PRESS bersama GP Ansor Ranting Desa Bangun menggelar Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) 2026 bagi santri TPQ se-Desa Bangun. Kegiatan yang dipusatkan di Musholla Nurul Huda, Dusun Bangun, ini menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-103.

Ketua GP Ansor Ranting Desa Bangun, Rahmad Fadloli, menegaskan bahwa MHQ bukan sekadar lomba hafalan Al-Qur’an, melainkan ikhtiar serius membentuk generasi Qur’ani yang berakhlak dan beradab.

“MHQ ini kami niatkan sebagai ruang apresiasi bagi santri TPQ sekaligus ikhtiar menumbuhkan cinta Al-Qur’an sejak dini. Semangatnya bukan hanya lomba, tapi membangun karakter, adab, dan kebanggaan menjadi generasi Qur’ani,” ujarnya.

MHQ 2026 mengusung kategori Hifdzil Qur’an 1 Juz 30 (’Amma) dengan sejumlah ketentuan, di antaranya peserta merupakan santri TPQ wilayah Desa Bangun, kuota maksimal lima santri per lembaga, serta kewajiban berpakaian rapi dan sopan. Lomba dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dan pada malam harinya dilanjutkan dengan Pengajian Umum, Puncak Gebyar MHQ, serta penyerahan hadiah bagi para pemenang.

Ketua Panitia MHQ 2026, Ustad Abdul Adzim, S.Pd.I, menjelaskan bahwa lomba dirancang tertib, edukatif, dan mendidik mental santri.

“Anak-anak tidak hanya diuji hafalannya, tetapi juga dilatih disiplin, adab, dan keberanian tampil. Kami ingin mereka pulang membawa pengalaman berharga dan semangat untuk terus muroja’ah,” tuturnya.

Dari sisi dukungan dan publikasi kegiatan, Muhammad Kholid Basyaiban, S.H, selaku Tim Media sekaligus Bendahara GP Ansor Ranting Desa Bangun, menekankan pentingnya kolaborasi dan keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Kegiatan ini berjalan dengan semangat gotong royong. Kami ingin pesan utamanya tersampaikan luas: memuliakan Al-Qur’an adalah investasi masa depan desa,” jelasnya.

Sementara itu, Nuzulul Nur Rohman, Divisi Kaderisasi dan Kepemudaan, menyebut MHQ sebagai bentuk kaderisasi nilai yang berkelanjutan.

“MHQ adalah kaderisasi nonformal yang membentuk keberanian, akhlak, dan ikatan kuat anak-anak dengan Al-Qur’an. Ini juga menghidupkan ekosistem TPQ agar saling menguatkan,” katanya.

Para ustadz dan ustadzah pendamping pun menyambut positif kegiatan ini. Mereka menilai MHQ mampu meningkatkan semangat santri, keterlibatan orang tua, serta kekompakan antar-TPQ.

“Santri jadi lebih rajin muroja’ah dan kami sebagai pendamping merasa diapresiasi,” ungkap salah satu perwakilan pendamping.

Dalam pengajian puncak, penceramah Gus H. Muhammad Izzul Kahfi, S.Pd.I menekankan pentingnya menciptakan suasana gembira dalam menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Membangun cinta Al-Qur’an harus dimulai dari kegembiraan anak-anak. Ketika Al-Qur’an dicintai, insyaAllah desa dijaga oleh keberkahan dan akhlak yang baik,” dawuhnya.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan uang pembinaan, piala, piagam penghargaan, bingkisan menarik bagi juara 1, 2, dan 3, serta doorprize untuk ustadz/ustadzah pendamping juara 1. Tak hanya itu, santri pemenang juga akan diupayakan mewakili kompetisi MHQ tingkat provinsi, dengan seluruh biaya dan akomodasi ditanggung GP Ansor Ranting Desa Bangun.

Melalui MHQ 2026, GP Ansor Ranting Desa Bangun meneguhkan komitmennya dalam membina generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah, sekaligus menguatkan peran TPQ sebagai pilar pendidikan keagamaan di tingkat desa. Tok

Generasi Muda Reog Surabaya Utara Galang Dana Rp20 Juta untuk Korban Bencana Sumatera

Surabaya, Timurpos.co.id – Semangat gotong royong dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan generasi muda Reog Surabaya Utara. Dengan dukungan penuh para sesepuh dan penasihat Reog Surabaya, mereka menggelar aksi penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di Sumatera. Dana hasil pengumpulan tersebut rencananya akan diserahkan melalui Posko BPBD Kota Surabaya.

Aksi kemanusiaan ini dikemas melalui pertunjukan seni tradisional Reog yang digelar di wilayah Surabaya Utara. Pagelaran seni tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, namun juga sarana efektif untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam membantu sesama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial. Melalui seni reog, kami mengajak masyarakat Surabaya untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera,” ujar perwakilan generasi muda Reog Surabaya. Minggu (4/1/2026).

Ia menambahkan, hingga akhir Desember 2025, donasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat mencapai sekitar Rp20 juta. Dana tersebut rencananya akan diserahkan ke Posko BPBD Surabaya pada keesokan harinya.

“Semoga donasi dari masyarakat Surabaya ini dapat membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatera,” imbuhnya.

Dukungan dari para sesepuh dan penasihat Reog Surabaya menjadi penyemangat tersendiri bagi para generasi muda. Para sesepuh turut memberikan arahan dan bimbingan agar kegiatan penggalangan dana ini berjalan lancar serta memberikan dampak nyata bagi korban bencana.

“Kami sangat bangga dengan semangat dan kepedulian yang ditunjukkan generasi muda Reog Surabaya. Kami akan terus mendukung agar mereka tetap berkarya dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Bukhori, Ketua Boreg Suran.

Aksi penggalangan dana ini berlangsung sejak awal hingga akhir Desember 2025, melibatkan 12 grup Reog di Surabaya. Di antaranya Singo Angumboro Joyo, Singo Kaliloran Joyo, Singo Aska Wijoyo, Tri Sapto Topo, Sardulo Manggolo Putro( KAWAN SEGER),  Gembong Singo Tambak, Mawar Barong Mudho, Margo Cipto Utomo, Wafa Budaya, Singo Barong Rekso, Singo Yudho Yuwono, Singo Jala Braja, dan Planet Reog (Mbah Hartono Leke).

Para seniman Reog Surabaya berharap aksi solidaritas ini dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk melakukan gerakan serupa. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama, diharapkan beban para korban bencana dapat diringankan dan membantu mereka bangkit kembali.

“Mari kita tunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar dengan hati yang besar. Bersama-sama, kita bisa,” pungkasnya penuh harap. Tok

SDIT Al Huda Bawean Raih Juara 2 Lomba Iklim Kwarda Jatim 2025

Bawean, Timurpos.co.id — Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh SDIT Al Huda Bawean dengan meraih Juara 2 Lomba Iklim Kwarda Jawa Timur 2025, ajang nasional yang diikuti oleh 1.500 peserta dari seluruh Indonesia. Kompetisi ini menantang peserta untuk menjalankan aksi iklim selama 21 hari penuh, menuntut konsistensi, kreativitas, dan dampak nyata bagi lingkungan.

Selama 21 hari, siswa SDIT Al Huda Bawean menjalankan berbagai program aksi iklim yang edukatif dan berkelanjutan, melibatkan sekolah serta masyarakat sekitar. Seluruh proses kegiatan dikawal langsung oleh Kwartir Cabang (Kwarcab) Gresik dan mendapat dukungan penuh dari Kwartir Ranting (Kwarran) Sangkapura, sehingga pelaksanaan berjalan tertib, terarah, dan penuh semangat.

Kepala SDIT Al Huda Bawean Rissky Wahyu Saputra menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, prestasi ini adalah hasil kerja keras, kedisiplinan, dan kekompakan siswa, guru, serta dukungan orang tua. Juara 2 dari 1.500 peserta bukan hanya kebanggaan sekolah, tetapi juga bukti bahwa pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan bisa ditanamkan melalui aksi nyata. Semoga ini menjadi motivasi untuk terus berkontribusi menjaga bumi,” ujarnya. Rabu (24/12).

Ketua Yayasan Daarul Fikri, Ustadzh Elia Puspa, turut memberikan apresiasi tinggi.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas prestasi SDIT Al Huda Bawean. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang menanamkan nilai iman, ilmu, dan kepedulian lingkungan mampu melahirkan generasi berkarakter dan berprestasi. Semoga capaian ini menjadi amal jariyah dan inspirasi bagi sekolah lainnya,” tuturnya.

Guru pendamping kegiatan, Ustadzh Kinanti Safitrin Naja, menegaskan bahwa tantangan selama 21 hari menjadi proses pembelajaran yang sangat bermakna.

“Anak-anak belajar bukan hanya tentang lomba, tetapi tentang tanggung jawab, konsistensi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka menjalani setiap tantangan dengan penuh semangat, meski tidak selalu mudah. Hasil ini adalah buah dari proses panjang yang penuh perjuangan,” ungkapnya.

Perwakilan peserta, Faiqotur Riyasah IzzIyah, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

“Kami senang dan bangga bisa ikut lomba ini. Selama 21 hari kami belajar menjaga lingkungan, bekerja sama, dan tidak mudah menyerah. Juara ini membuat kami semakin semangat untuk terus peduli pada bumi,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh peserta lainnya, Meilina Elistalita Syahbani.

“Lomba ini memberi kami pengalaman berharga. Kami belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil dan dilakukan bersama-sama. Terima kasih untuk guru dan semua yang sudah mendampingi kami,” ujarnya.

Prestasi ini menegaskan bahwa SDIT Al Huda Bawean, meski berada di wilayah kepulauan, mampu bersaing di tingkat nasional dengan semangat, inovasi, dan kolaborasi. Lebih dari sekadar piala, kemenangan ini menjadi simbol komitmen sekolah dalam mencetak generasi yang peduli lingkungan dan siap menjadi agen perubahan untuk masa depan bumi. Tok

IKA SMAK St. Louis 1 Surabaya Berbagi Kasih Natal untuk Guru Purnatugas dan Alumni

Surabaya, Timurpos.co.id – Menjelang perayaan Natal, Ikatan Alumni (IKA) SMAK St. Louis 1 Surabaya kembali menggelar kegiatan rutin tahunan Berbagi Kasih Natal, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini diwujudkan melalui pembagian bingkisan Natal kepada para guru purnatugas serta alumni yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian dan apresiasi IKA SMAK St. Louis 1 terhadap jasa dan dedikasi para guru yang telah mengabdikan diri dalam mendidik generasi demi generasi siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya.

Ikatan Alumni SMAK St. Louis 1 yang resmi berdiri sejak tahun 2002 ini memiliki Kantor Sekretariat yang berada di lingkungan sekolah, tepatnya di Gedung A SMAK St. Louis 1, Jalan Polisi Istimewa No. 7 Surabaya. Pembagian bingkisan Kasih Natal dilaksanakan di kantor sekretariat tersebut mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.

Para guru purnatugas dan alumni yang hadir tampak antusias. Setelah menerima bingkisan Natal, para guru purnatugas menyempatkan diri untuk bercengkerama, bernostalgia, dan mengenang masa-masa saat mengajar. Beberapa di antaranya juga berkeliling sekolah untuk melihat perubahan suasana kelas serta sarana dan prasarana yang baru maupun yang masih bertahan sejak mereka aktif mengajar dahulu.

Ketua Umum IKA SMAK St. Louis 1, Vincentia Juliani, mengatakan bahwa kegiatan Berbagi Kasih Natal ini merupakan implementasi dari visi dan misi IKA SMAK St. Louis 1, yakni menghargai jasa para guru purnatugas, saling membantu sesama alumni, serta menjaga nama baik almamater.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terjalin sinergi yang baik antara alumni, guru, dan almamater, sehingga memberikan dampak positif bagi semua pihak,” ujarnya.

Vincentia juga menambahkan bahwa suksesnya kegiatan ini tidak lepas dari dukungan seluruh pihak, terutama para alumni dan almamater yang terus bergandengan tangan dalam mengharumkan nama besar SMAK St. Louis 1 Surabaya.

Ia menegaskan, seluruh kegiatan IKA SMAK St. Louis 1 selalu berpegang pada motto “Dari Alumni, Oleh Alumni, dan Untuk Alumni.” Termasuk dalam pengadaan bingkisan Kasih Natal, seluruhnya bersumber dari partisipasi dan kontribusi para alumni.
“Segala kegiatan IKA adalah cerminan dari motto tersebut,” imbuhnya.

Sebagai organisasi alumni yang berkantor sekretariat di lingkungan sekolah, IKA SMAK St. Louis 1 terus berupaya meningkatkan rasa keguyuban dan kebersamaan lintas generasi melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat, sekaligus mempererat hubungan antara alumni dan almamater. Tok

Anak-Anak dan Warga Kumpulkan Hampir 1 Ton Sampah Pantai

Gresik, Timurpos.co.id – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir ditunjukkan melalui kegiatan Children Environmental Action: Aksi Bersih Pantai yang digelar di Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, pada 15 Desember 2025. Kegiatan ini melibatkan anak-anak sekolah dasar bersama masyarakat setempat dalam aksi nyata membersihkan pantai.

Aksi bersih pantai tersebut diselenggarakan oleh SDIT Al Huda Bawean berkolaborasi dengan Ecoton, Human In Love Foundation (Korea), serta mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Lebak. Sebanyak 30 siswa SDIT Al Huda Bawean dan 15 warga Desa Lebak, termasuk unsur pemerintah desa, turut ambil bagian membersihkan kawasan pantai yang selama ini menjadi area wisata dan tempat bermain anak-anak.

Kepala Sekolah SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra, mengatakan kegiatan ini bertujuan menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini melalui aksi langsung di lapangan.

“Kami ingin siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi memahami secara langsung dampak sampah di pesisir. Ini juga menjadi upaya membangun tanggung jawab bersama antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah desa dalam menjaga lingkungan pantai,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, para peserta berhasil mengumpulkan total 945 kilogram sampah, terdiri dari 70 karung sampah organik dan 80 karung sampah anorganik. Hasil temuan di lapangan menunjukkan sampah didominasi oleh plastik sekali pakai, terutama bungkus saset makanan.

Yang memprihatinkan, panitia menemukan kemasan plastik yang diperkirakan berasal dari tahun 1989, serta sisa obat-obatan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem laut.

“Sekitar 60 hingga 70 persen sampah berasal dari aktivitas masyarakat sendiri, sementara sisanya merupakan sampah kiriman. Fakta ditemukannya bungkus saset puluhan tahun lalu menunjukkan betapa lamanya plastik bertahan di lingkungan pesisir,” ungkap Rissky.

Ia juga menyoroti risiko kesehatan bagi anak-anak yang sering beraktivitas di pantai tersebut.

“Pantai ini menjadi tempat bermain dan berenang anak-anak. Jika tidak ada pengelolaan dan pemantauan kebersihan yang baik, kami khawatir zat berbahaya bisa mengenai kulit atau bahkan tertelan. Harapannya, ke depan setiap desa pesisir memiliki sistem monitoring kebersihan pantai secara rutin,” tambahnya.

Kepala Desa Lebak, Fadal, mengakui bahwa persoalan sampah pesisir tidak bisa ditangani oleh desa secara mandiri.

“Kami menyadari keterbatasan yang ada. Desa masih membutuhkan dukungan, khususnya dalam penyediaan dan peningkatan fasilitas serta pelayanan persampahan agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Alaika Rahmatullah, Manajer Divisi Advokasi dan Kebijakan Ecoton, menyoroti temuan sampah plastik saset sebagai bukti kegagalan sistemik pengelolaan plastik sekali pakai.

“Melalui prinsip Extended Producer Responsibility (EPR), produsen wajib bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup kemasan yang mereka edarkan, termasuk pengumpulan kembali. Tanpa keterlibatan aktif perusahaan, beban sampah akan terus ditanggung masyarakat dan pemerintah desa,” tegasnya.

Anak-Anak sebagai Agen Perubahan
Melalui kegiatan Children Environmental Action: Aksi Bersih Pantai, para pihak berharap kesadaran lingkungan dapat tumbuh sejak dini, memperkuat peran anak-anak sebagai agen perubahan, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah desa dalam menjaga kebersihan dan kesehatan ekosistem pesisir Pulau Bawean. Tok

Faradila Dwi Eliansyah Sitorus Raih Juara 1 Kejurprov IBCA MMA Piala Bupati Tuban 2025

Tuban, Timurpos.co.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet Mixed Martial Arts (MMA) muda, Faradila Dwi Eliansyah Sitorus, yang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) IBCA MMA Piala Bupati Tuban 2025. Kejuaraan tersebut digelar di Tuban pada Desember 2025 dan diikuti oleh atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah.

Faradila tampil dominan sejak babak awal hingga partai final. Dengan teknik bertanding yang matang, mental kuat, serta strategi yang tepat, ia mampu mengungguli lawan-lawannya dan memastikan naik ke podium tertinggi.

Keberhasilan ini menjadi bukti konsistensi Faradila dalam dunia bela diri campuran (MMA), sekaligus mengharumkan nama daerah dan perguruan yang menaunginya. Capaian tersebut juga menunjukkan perkembangan positif pembinaan atlet MMA di tingkat daerah hingga provinsi.

Ajang Kejurprov IBCA MMA Piala Bupati Tuban 2025 sendiri merupakan salah satu agenda resmi yang berada di bawah naungan organisasi olahraga bela diri, dengan tujuan menjaring atlet-atlet potensial untuk dipersiapkan ke level nasional.

Dengan raihan gelar juara ini, Faradila Dwi Eliansyah Sitorus diharapkan mampu terus meningkatkan prestasi dan menjadi salah satu atlet andalan Indonesia di cabang olahraga MMA pada masa mendatang. Tok

SSB Dwikora Juara 1 Piala LSAS Cup di Gayungan

Surabaya, Timurpos.co.id – SSB Dwikora kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 Piala LSAS Cup yang digelar di Lapangan Gayungan, Surabaya. Keberhasilan ini menjadi bukti kerja keras para pemain muda serta peran penting pelatih dalam membina bakat sepak bola usia dini. Minggu (14/12).

Pada partai final, tim SSB Dwikora tampil solid dan penuh semangat juang. Permainan disiplin, kerja sama tim yang baik, serta mental bertanding yang kuat membawa Dwikora keluar sebagai juara utama turnamen tersebut. Salah satu pemain SSB Dwikora bahkan berhasil menyabet penghargaan individu, menambah catatan prestasi tim di ajang bergengsi ini.

Pelatih SSB Dwikora, Rahmat menyampaikan, bahwa rasa bangga atas capaian anak asuhnya. Menurutnya, kemenangan ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga hasil dari proses latihan yang konsisten, kedisiplinan, serta dukungan orang tua dan manajemen tim.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus berkembang dan berprestasi lebih tinggi ke depan,” ujarnya usai penyerahan piala.

Moch Hamzah Syah salah satu pemain menyampaikan, bahwa terimakasih kepada pelatih yang telah memberikan kesempatan dan pelatihan sehingga kita bisa meraih juara.

“Saya sangat senang sekali dan bangga telah menjadi juara.” Ucapnya sembari bujukan piala.

Turnamen LSAS Cup sendiri diikuti oleh sejumlah Sekolah Sepak Bola (SSB) dari berbagai wilayah di Surabaya dan sekitarnya. Ajang ini menjadi wadah pembinaan sekaligus pencarian bibit-bibit pesepak bola muda berbakat.

Dengan raihan Juara 1 ini, SSB Dwikora diharapkan mampu terus menjaga performa dan melahirkan pemain-pemain potensial yang kelak dapat mengharumkan nama daerah di tingkat yang lebih tinggi. Tok

Media yang Tidak Sekadar Meliput: KOMPAK Menjadi Jembatan Kemanusiaan

Surabaya, Timurpos.co.id – Komunitas Media Pengadilan dan Kejaksaan (KOMPAK) menginisiasi gerakan kemanusiaan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Langkah cepat ini merupakan respons kalangan jurnalis terhadap situasi darurat yang hingga kini masih menyulitkan akses, terutama di wilayah yang terisolasi akibat bencana.

Ketua Umum KOMPAK, Budi Mulyono, menyampaikan bahwa gerakan ini bukan sekadar solidaritas spontan, melainkan wujud tanggung jawab sosial komunitas media yang selama ini berada di garis depan dalam isu kemanusiaan, hukum, dan perlindungan publik.

“Penggalangan dana ini murni panggilan jiwa untuk saudara-saudara kita di Sumatra dan Aceh yang sedang menghadapi situasi genting. Banyak wilayah masih kesulitan logistik, sementara kebutuhan dasar terus meningkat,” kata Budi, Selasa (9/12/2025).

Ia memastikan seluruh proses pengumpulan hingga penyaluran dana dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami ingin memastikan bantuan tidak hanya cepat tiba, tetapi juga tercatat jelas dari awal hingga akhir. Solidaritas harus bisa dibaca publik,” tegasnya.

Banjir dan tanah longsor akibat hujan ekstrem memberi dampak besar di tiga provinsi tersebut. Data BNPB pada 6 Desember 2025 mencatat: 914 korban meninggal dan 389 korban hilang

Situasi di lapangan berubah cepat. Laporan terbaru dari sejumlah kanal resmi dan media pada 8–9 Desember 2025 mencatat peningkatan jumlah korban meninggal menjadi 961–962 jiwa, menandakan banyak kawasan baru berhasil dijangkau tim SAR, terutama wilayah perbukitan dan desa-desa yang sebelumnya terputus aksesnya.

Selain korban jiwa, ribuan warga masih mengungsi, jalur transportasi rusak, jaringan komunikasi terbatas, dan kebutuhan logistik meningkat drastis. Pemerintah melalui BNPB memprioritaskan:

1.Pencarian dan evakuasi korban,
2.Pembukaan akses darat,
3.Suplai bantuan darurat,
4.Pemulihan komunikasi dan energi.

KOMPAK memastikan seluruh donasi yang masuk terdokumentasi dengan baik dan akan dipublikasikan secara berkala melalui laporan di grup WhatsApp KOMPAK. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus menghindari celah penyalahgunaan dana dalam situasi bencana yang rawan.

“Kami berkolaborasi dengan para jurnalis dan pihak terkait untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar diterima mereka yang membutuhkan,” ujar Budi.

Gerakan kemanusiaan yang dilakukan KOMPAK ini diharapkan mampu mempercepat distribusi bantuan kepada korban bencana, sekaligus menjadi bukti bahwa komunitas media tidak hanya menjalankan fungsi kontrol sosial, tetapi juga hadir dalam solidaritas nyata ketika masyarakat membutuhkan. Tok

Dua Selebgram Jesica dan Nonik Sepakat Berdamai Usai Saling Lapor di Polda Jatim

Surabaya, Timurpos.co.id – Perseteruan antara dua selebgram, Jesica dan Nonik, akhirnya berakhir damai. Keduanya sepakat menyudahi konflik yang sempat ramai di media sosial terkait dugaan perselingkuhan yang melibatkan suami Nonik, Bima.

Dalam pernyataannya, Jesica mengakui kesalahannya karena pernah berselingkuh dengan Bima. Ia menegaskan bahwa antara dirinya dan pihak Nonik telah dilakukan proses perdamaian yang difasilitasi oleh kuasa hukum Nonik pada 5 November 2025.

Perdamaian tersebut mencakup kesepakatan untuk saling mencabut laporan serta komitmen agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Saya sudah mengakui kesalahan kalau saya pernah berselingkuh dengan suami Nonik, Bima. Di sini sudah ada perdamaian yang dibantu oleh kuasa hukum dari Nonik pada 5 November 2025 lalu. Kami sepakat untuk saling mencabut laporan. Saya juga sudah membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi hal itu,” ujar Jesica kepada Timurpos. Selasa (11/11).

Jesica juga memberikan klarifikasi tambahan terkait sejumlah isu yang beredar. Ia membantah kabar bahwa dirinya dibelikan tas bermerek Coach Tabby oleh Bima. Menurutnya, tas tersebut dibeli sendiri.

“Yang tidak benar itu soal tas Coach Tabby. Itu saya beli sendiri. Lalu soal saya berselingkuh di rumah Nonik, awalnya saya janjian di Starbucks, tapi Bima bilang mau ambil barang dulu di rumahnya, yang ternyata rumah Nonik,” jelasnya.

Sementara itu, Nonik yang merupakan istri Bima menyatakan telah memaafkan perbuatan Jesica.“Saya sudah memaafkan perilaku Jesica yang telah berselingkuh dengan suami saya,” ujarnya singkat.

Dengan adanya kesepakatan damai ini, kedua pihak berharap masalah yang sempat menjadi perbincangan publik tersebut tidak lagi diperpanjang dan dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak. Tok