Semarak Hari Kedua IPPA Fest Aloha 2025, Kekeluargaan dan Kebersamaan

Jakarta, Timurpos.co.id – Memasuki hari kedua gelaran Indonesian Prison Product and Art Festival (IPPA Fest) Aloha 2025, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, turut memeriahkan rangkaian kegiatan fun walk dan senam bersama keluarga besar Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Sabtu (9/8).

Kegiatan fun walk dimulai dari halaman depan Pantai Aloha PIK, dibuka secara langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, didampingi istri. Mengusung tema yang sama dengan IPPA Fest dan sekaligus menyongsong HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, rute fun walk menyusuri indahnya pesisir Pantai Aloha dengan penuh semangat kebersamaan.

Usai fun walk, acara dilanjutkan dengan senam bersama dalam rangka family gathering yang diikuti seluruh pegawai dan keluarga besar Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Suasana semakin meriah ketika digelar lomba-lomba khas HUT RI yang diikuti para Kepala Kantor Wilayah, baik dari jajaran imigrasi maupun pemasyarakatan, sehingga mempererat tali silaturahmi antarwilayah.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menyampaikan, “Momentum seperti ini bukan hanya soal olahraga atau hiburan, tapi juga memperkuat rasa kekeluargaan di antara kita semua. Kebersamaan ini yang akan menjadi energi positif untuk melanjutkan pengabdian kepada bangsa.”

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menambahkan, “IPPA Fest Aloha 2025 menjadi bukti bahwa pemasyarakatan bisa menyajikan kegiatan yang inspiratif, menyenangkan, dan bermanfaat bagi pegawai, keluarga, serta masyarakat luas.”

Kakanwil Ditjenpas Jatim, Kadiyono, yang hadir bersama jajaran, mengungkapkan, “Kegiatan ini membawa semangat yang luar biasa. Fun walk, senam, dan lomba tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarsesama.”

Kadiyono berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. “Semoga semangat kebersamaan yang tercipta di IPPA Fest Aloha 2025 dapat kita bawa pulang ke daerah masing-masing, untuk menjadi motivasi dalam bekerja dan melayani dengan hati serta mencapai tujuan pemasyarakatan yang pasti bermanfaat untuk masyarakat” pungkasnya. TOK

Edukasi Bahaya Mikroplastik dan Gerakan Guna Ulang untuk Generasi Emas 2045

Surabaya, Timurpos.co.id – Dalam rangka memperingati Gebyar Han Anak Nasional yang digelar Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur di Car Free Day Surabaya, Minggu (10/8).

ECOTON Foundation hadir memberikan edukasi bahaya mikroplastik dan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai kepada lebih dan 500 pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Melalui aksi kreatif, ECOTON membawa kran plastik raksasa sebagai simbol pentingnya “menutup kran” produksi plastik sekali pakai melalui penegakan regulasi ECOTON juga menghadirkan mikroskop untuk mengamati langsung partikel mikropiastik yang berbahaya, serta memperkenalkan layanan refill in sebagai solusi nyata mengurangi plastik sachet sekali pakai, khususnya untuk produk rumah tangga. Tidak hanya itu, anak anak peserta kegiatan ikut menyuarakan berbagai pesan kampanye, mulai dari menggunakan botol tumbler guna ulang, mengurangi plastik sekali pakai, anti pernikahan dini,stop bullying,semangat Bhinneka Tunggal Ika, hingga melestankan mainan tradistonal berbahan alami yang aman bagi kesehatan anak.

Bahaya Mikroplastik pada Anak dan Bayi Penelitian ECOTON dan studi intemasional menunjukkan bahwa bayi dan anak-anak rentan terpapar mikroplastik. Berdasarkan nset Environmental Science & Technology (2021), bayi dapat mengonsumsi hingga 10-20 kali lebih banyak mikroplastik per kilogram berat badan dibanding orang dewasa, terutama dan botol susu plastik, kemasan makanan, dan udara dalam ruangan.

Berdasarkan penelitian yang masuk ke tubuh berpotensi membawa bahan kimia berbahaya seperti ftalat dan bisfenol A (BPA) yang dapat mengganggu hormon, menghambat tumbuh kembang, dan menurunkan sistem imun. “Anak-anak seharusnya tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mengurangi plastik sekali pakai adalah langkah penting melindungi generasi penerus dan bahaya mikroplastik,” jelas Rafika Aprilianti, peneliti mikroplastik ECOTON. Penuhi Hak Anak Menuju Indonesia Emas 2045 Ibu Pingki, Panitia Gebyar Han Anak Nasional BKKKS Jatim, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memastikan pemenuhan hak anak. “Hak anak meliputi hak hidup, hak tumbuh kembang, hak mendapatkan perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan eksplortasi, serta hak berpartisipasi dalam pembangunan.

Semua ini menjadi pondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya. Suara Anak dan Orang Tua

Salah satu siswi SMP Santa Maria Surabaya, menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna:

“Aku ingin bumi bersih dari plastik supaya hewan dan manusia bisa hidup sehat.”

Ibu Rinsi dari Yayasan Seribu Cinta, yang turut hadir, mengaku terkesan dengan edukasi yang diberikan ECOTON.

“Saya baru tahu kalau plastik yang kita pakai sehari-hari bisa jadi mikroplastik yang berbahaya untuk anak. Edukasi ini sangat penting untuk semua orang tua,” ungkapnya.

Ajakan untuk Bertindak

ECOTON mengajak seluruh masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri untuk bersama-sama mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai, memperluas akses layanan isi ulang (refill station), dan memperkuat regulasi pembatasan plastik.

“Generasi anak-anak kita adalah pewaris bumi. Lindungi mereka dari bahaya mukroplastik, mulai dari rumah, mulai dari sekarang,”

Tegaskan Legalitas, PSHT Surabaya Serahkan Dokumen Resmi ke Bakesbangpol dan IPSI

Surabaya, Timurpos.co.id – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Surabaya di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dr. Ir. H. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc. terus memperkuat eksistensinya dengan langkah konkret dalam penataan hukum dan administrasi organisasi. Pada Selasa (5/8), sejumlah pengurus PSHT mendatangi dua institusi penting di Surabaya untuk menyerahkan dokumen legalitas resmi.

Rombongan PSHT lebih dulu menyambangi Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Surabaya. Di sana, mereka menyerahkan berkas berupa putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap serta dokumen pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), yang menegaskan bahwa kepengurusan PSHT yang sah secara hukum berada di bawah Ketua Umum Dr. Muhammad Taufiq.

Setelah dari Bakesbangpol, para pengurus melanjutkan agenda mereka ke kantor Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Surabaya di kawasan Perumahan Babatan, Wiyung, dengan menyerahkan dokumen legalitas yang sama.

Dwi Eko Prastiawan, S.H., dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PSHT menegaskan bahwa penyerahan dokumen ini merupakan bentuk komitmen PSHT terhadap tertib administrasi dan penghormatan terhadap regulasi negara. “Kami ingin menginformasikan secara resmi kepada instansi pemerintah dan masyarakat bahwa PSHT yang sah kini telah kembali diakui secara hukum. Tidak ada lagi alasan untuk kebingungan atau simpang siur terkait legalitas kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa selama konflik internal yang sempat terjadi, PSHT terkendala dalam mengikuti kegiatan resmi di bawah naungan IPSI. Namun, dengan status badan hukum yang kini telah aktif kembali, PSHT siap berkontribusi dalam pembinaan dan prestasi pencak silat di Kota Surabaya.

Ketua PSHT Cabang Surabaya, Agus Sugiono, menyampaikan apresiasi atas selesainya proses hukum dan administratif ini. Ia berharap ke depan PSHT dapat membangun harmoni dengan seluruh perguruan silat dan menjunjung nilai-nilai persaudaraan sejati.

“Sekarang legalitas kami sudah jelas dan sah diakui oleh negara. Mari kita lupakan konflik yang lalu dan membangun kembali silaturahmi antar sesama pendekar. Kita tulis babak baru dengan tinta emas, bukan dengan pelepah pisang,” tutup Agus penuh harap.

Langkah ini menjadi sinyal positif bagi masa depan organisasi PSHT, khususnya di Surabaya, untuk terus aktif dalam kegiatan resmi dan berkontribusi dalam pembinaan karakter generasi muda melalui pencak silat. TOK

Piala Wali Kota Surabaya 2025 Resmi Digelar, FHI Surabaya Siapkan Atlet Muda Menuju Porprov dan PON

Surabaya, Timurpos.co.id – Semangat olahraga kembali membara di Kota Pahlawan. Pengurus Cabang Federasi Hockey Indonesia (FHI) Kota Surabaya menggelar Turnamen Piala Wali Kota Surabaya 2025 sebagai ajang pencarian bibit unggul di cabang olahraga hoki. Turnamen ini secara resmi dibuka oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, di Lapangan Hockey Dharmawangsa, Surabaya.

Ketua Umum FHI Surabaya, H. Subakri, S.Pd, menyampaikan bahwa ajang ini menjadi bagian dari program jangka panjang FHI Surabaya untuk membina dan menyiapkan atlet muda sejak dini. “Turnamen ini menjadi media seleksi atlet muda dari berbagai kelompok usia untuk disiapkan ke Porprov 2027 di Surabaya dan PON 2028 di Nusa Tenggara Barat,” ujar Subakri.

Menurutnya, regenerasi atlet sangat penting, mengingat banyak atlet senior Surabaya kini telah bergabung di tim nasional. “Kami ingin memastikan keberlangsungan prestasi hoki Surabaya. Target kami di Porprov 2027 sebagai tuan rumah adalah menjadi juara umum, dengan menyapu bersih semua medali emas,” tegasnya optimis. Jumat (1/8/2025).

Turnamen ini akan berlangsung mulai 15 hingga 21 September 2025 dan diikuti oleh berbagai kategori usia mulai dari SD (U-12), SMP (U-15), SMA (U-18), hingga kategori umum (open). Total hadiah berupa trofi, medali, dan sertifikat telah disiapkan bagi para pemenang.

Subakri yang juga mantan atlet peraih medali perak autdor PON ke-14 di Jakarta sampai saat ini tidak terpecahkan perai mendali perak ,posisi saya sebagai gool kiper Hocky Surabaya, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan ajang ini. “Mari kita wujudkan semangat sportivitas dan raih prestasi di ajang bergengsi ini,” ujarnya penuh semangat.

Pendaftaran dibuka hingga 10 September 2025 dengan kuota terbatas. Informasi lengkap dan formulir pendaftaran dapat diakses melalui tautan bit.ly/pialawalikota2025 atau menghubungi panitia (Karin) di nomor 082139912158. TOK

Jeratan Sampah Plastik Ancam Mangrove Surabaya, ECOTON Desak Pembangunan Pagar Laut di Pesisir Timur

Surabaya, Timurpos.co.id — Dalam momentum peringatan Hari Mangrove Sedunia dan Hari Sungai, Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Komunitas Marapaima menggelar aksi penyelamatan ekosistem pesisir dari ancaman sampah plastik. Aksi dilakukan di dua lokasi sekaligus, yaitu kawasan mangrove Wonorejo, Kota Surabaya (26/7) dan di kawasan hulu DAS Brantas di Sumber Mendit, Malang (27/7).

Sebanyak 25 relawan terlibat langsung dalam kegiatan ini dan berhasil mengevakuasi sekitar 800 kilogram sampah plastik yang menyangkut di akar dan batang pohon mangrove. Sampah tersebut didominasi oleh plastik sekali pakai seperti kresek, styrofoam, sedotan, dan sachet multilayer, yang sebagian besar sulit untuk didaur ulang.

Koordinator Audit Sampah ECOTON, Alaika Rahmatullah, menyebut bahwa temuan di lapangan membuktikan kegagalan program pengurangan sampah plastik nasional sesuai target Perpres No. 83 Tahun 2018. Sampah plastik yang bocor dari DAS Brantas terus mengalir ke wilayah pesisir dan menyebabkan stres hingga kematian pada pohon-pohon mangrove.

Audit merek yang dilakukan ECOTON menunjukkan dominasi sampah unbranded sebanyak 554 item, serta sampah dari merek ternama seperti Unilever (154), Wings (104), Indofood (84), Mayora (74), dan Garuda Food (54). Fakta ini memperkuat tuntutan agar produsen menerapkan Extended Producer Responsibility (EPR) secara lebih ketat.

“Sampah plastik yang terus terakumulasi di pesisir menyebabkan kerusakan ekologis dan memperburuk kualitas lingkungan. Mikroplastik yang dihasilkan dari degradasi plastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan, bahkan ditemukan dalam tubuh manusia,” ujar Meylisa Rhemia Lumintang, mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya.

Temuan ECOTON juga menyoroti peran DAS Brantas sebagai jalur kritis transportasi sampah plastik, dari hulu hingga mencemari ekosistem mangrove di pesisir timur Surabaya. Sampah yang tidak terkelola dengan baik di hulu terbukti hanyut ke hilir, menjadikan kawasan pesisir sebagai titik akhir akumulasi sampah plastik.

Melalui aksi ini, ECOTON menyuarakan lima tuntutan utama:

1. Pembangunan pagar laut untuk mencegah masuknya sampah plastik ke kawasan pesisir.
2. Optimalisasi pengelolaan sampah di hulu DAS Brantas, guna menghentikan aliran sampah ke laut.
3. Pelarangan plastik sekali pakai yang sulit terurai seperti kresek, sedotan, styrofoam, dan sachet multilayer.
4. Penguatan kolaborasi lintas sektor, termasuk antara pemerintah, komunitas lokal, dan industri.
5. Penerapan tanggung jawab produsen (EPR) yang mencakup pengumpulan dan pemulihan dampak lingkungan dari produk mereka.

“Daur ulang bukan solusi utama,” tegas Alaika. “Selama produksi plastik sekali pakai terus meningkat dan infrastruktur daur ulang tidak memadai, masalah ini hanya akan menjadi bom waktu bagi generasi mendatang.”

Dengan kondisi mangrove yang terus terancam, ECOTON mendesak tindakan nyata dari seluruh pemangku kepentingan demi melindungi pesisir Surabaya dan keberlangsungan ekosistem laut Indonesia. TOK

ECOTON Gaungkan Ancaman Mikroplastik pada Anak dalam Peringatan Hari Anak Nasional 2025

Surabaya, Timurpos.co.id — Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang mengusung tema “Listen to the Future, Grow Up, and Show Up!” menjadi momen penting bagi Yayasan ECOTON untuk menyuarakan bahaya mikroplastik terhadap anak-anak. Bertempat di Universitas Airlangga Surabaya, acara ini digelar atas kerja sama antara Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, Wahana Visi Indonesia, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Anak-anak adalah generasi penerus yang akan menentukan arah bangsa di masa depan,” ujar Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Airlangga, dalam sambutannya.

Dalam acara ini, ECOTON menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari sesi mikroskopi interaktif hingga swab kulit tangan anak-anak yang menunjukkan keberadaan mikroplastik akibat aktivitas sehari-hari. Demonstrasi ini secara nyata memperlihatkan ancaman dari bahan plastik seperti botol PET, plastik fleksibel, hingga sedotan yang saat terkena panas dapat melepaskan partikel berbahaya.

Sebagai langkah konkret pemberdayaan, ECOTON juga memperkenalkan program Microplastics Hunter yang melibatkan pelajar SD hingga SMA untuk menjadi “detektif lingkungan” yang meneliti keberadaan mikroplastik di air, debu, dan sisa jajanan. Selain itu, program SEKO (Sekolah Ekologis) yang merupakan bagian dari inisiatif AZWI (Aliansi Zero Waste Indonesia), mendorong sekolah-sekolah mitra untuk menerapkan pemilahan sampah, kantin sehat, pembuatan kompos, dan pengawasan kualitas sungai.

Pameran edukasi bertajuk Human Plastic menjadi salah satu daya tarik utama. ECOTON menampilkan replika transparan tubuh bayi dengan partikel mikroplastik dalam organ, serta poster ilmiah berbasis data nyata dari darah, air ketuban, urin, ASI, dan mekonium. Tak ketinggalan. TOK

Ecoton dan Sekolah Ajak Anak Sampai Orang Tua Terlibat Aktif Mitigasi Perubahan Iklim

Gresik, Timurpos.co.id — ECOTON bersama UPT SDN 192 Gresik secara resmi meluncurkan program Japri Keluarga (Jaga Pohon Rawat Indonesia) sebagai upaya memperkuat peran anak dan orang tua dalam mitigasi perubahan iklim. Program ini diluncurkan bertepatan dengan penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang ditandai dengan pameran Adiwiyata bertema pendidikan lingkungan hidup. Jumat (18/7/2025).

Dalam pameran tersebut, para siswa memamerkan berbagai kegiatan lingkungan hidup yang telah dilakukan sekolah, seperti edukasi tentang bahaya mikroplastik, pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, serta aksi merawat pohon sebagai simbol komitmen mitigasi perubahan iklim.

“Program JAPRI Keluarga (Jaga Pohon Rawat Indonesia) bertujuan mendorong keterlibatan aktif keluarga, khususnya anak dan orang tua, untuk merawat pohon sebagai aksi nyata menghadapi perubahan iklim. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, siswa diajak tidak hanya menanam pohon, tetapi juga memahami pertumbuhan dan perkembangan tanaman sekaligus menjaga dari ancaman ekologis seperti pencemaran plastik yang dapat merusak ekosistem pohon dan tanah” ungkap Tonis Afrianto Koordinator Program JAPRI Keluarga.

Sementara itu Kepala Sekolah UPT SDN 192 Gresik, Wiwik Dwi Astutik, S.Pd., MM mengatakan “Program JAPRI bisa menumbuh kembangkan siswa siswi untuk selalu mencintai lingkungan hidup dan menjaga kelestarian kehidupan di masa depan”

“Kegiatan ini sangat seru, ada pengalaman baru untuk bisa terlibat merawat pohon di lingkungan sekolah dan keluarga,” ungkap Elza Aurelia Stefanny, siswi kelas 4B UPT SDN 192 Gresik.

Sementara itu, Elsandra Naura Fidella, juga dari kelas 4B, menyampaikan harapan “Semoga pohonnya bisa tumbuh besar dan sehat. Nanti buahnya bisa dimanfaatkan. Saya tidak ingin semakin banyaknya sampah plastik merusak dan menjerat pohon.”

Dengan diluncurkannya Japri Keluarga, ECOTON berharap pendekatan lingkungan hidup dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak di rumah dan sekolah. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga diharapkan menjadi kunci perubahan menuju masyarakat yang lebih sadar iklim dan ramah lingkungan. ***

BBWS Brantas Ungkap Status Bangunan Liar di Sempadan Sungai: Citynine Bambe Masuk Status Quo

Surabaya, Timurpos.co.id – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas melalui Kepala Operasi dan Pemeliharaan (OP), Musdianto Muhti, S.T., M.T., mengungkap sejumlah poin penting terkait kondisi dan penanganan bangunan di lahan sempadan sungai dalam audiensi yang digelar baru-baru ini.

Musdianto menyebut bahwa banyaknya bangunan liar di sempadan sungai saat ini, termasuk bangunan Citynine yang berada di kawasan Bambe, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, berada dalam status quo. Hal ini berarti keberadaannya belum mendapatkan kejelasan hukum maupun tindakan pembongkaran lebih lanjut.

“BBWS Brantas sedang melakukan kajian lahan sempadan di sepanjang Kali Surabaya. Hasil kajian ini nantinya akan menjadi dasar untuk diajukannya penetapan sempadan sungai melalui keputusan Menteri PUPR. Targetnya, kajian ini selesai pada Maret 2026,” terang Musdianto.

BBWS juga mengklaim telah rutin melakukan pengawasan dengan melakukan kegiatan susur sungai secara berkala, yakni sebulan sekali. Di sisi lain, BBWS telah berhasil melakukan pembebasan lahan sempadan di Sungai Wonokromo sepanjang 200 meter bekerja sama dengan pihak swasta, yaitu Samator. Namun, untuk kawasan Kali Surabaya, hingga saat ini belum ada upaya pembebasan lahan.

“Meski belum ada pembebasan lahan di Kali Surabaya, kami telah memberikan surat peringatan kepada sejumlah bangunan ilegal di sempadan sungai, khususnya di daerah Lebaniwaras dan Sumengko,” jelasnya.

Terkait keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di sempadan sungai, BBWS menegaskan bahwa hal tersebut memerlukan izin khusus dari pihaknya. Hingga kini, BBWS belum pernah menerbitkan izin untuk pendirian TPS di sempadan Kali Surabaya. Pengelolaan sampah sendiri merupakan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pemerintah daerah setempat.

“Jika ada TPS berdiri di sempadan tanpa izin BBWS, maka bisa dipastikan itu ilegal,” tegas Musdianto.

Dalam hal koordinasi antarinstansi, BBWS Brantas telah menjalin kerja sama intensif dengan Wali Kota Surabaya dan Bupati Sidoarjo terkait pengelolaan sempadan Kali Surabaya. Namun, untuk Pemerintah Kabupaten Gresik, hingga saat ini belum terjalin kerja sama yang konkret.

Langkah BBWS Brantas ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menata ulang kawasan sempadan sungai untuk mencegah kerusakan lingkungan dan meningkatkan fungsi konservasi aliran sungai, sekaligus menertibkan bangunan-bangunan yang berdiri di atas lahan sempadan secara ilegal. ***

Mahasiswa Ilmu Lingkungan UNS Promosikan Gerakan STOP Plastik Sekali Pakai

Surakarta, Timurpos.co.id – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Program Studi S2 dan S3 Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar diskusi publik bertajuk STOP Plastik Sekali Pakai. Acara ini menekankan pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong inovasi bahan alternatif berbasis hayati sebagai solusi berkelanjutan terhadap krisis polusi plastik.

Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si., Dekan Sekolah Pascasarjana UNS, menyampaikan bahwa bumi merupakan titipan yang harus dijaga dan diwariskan dalam kondisi baik kepada generasi berikutnya. “Polusi plastik yang semakin parah mendorong kita untuk menciptakan inovasi bahan hayati dari singkong, kentang, dan ubi. Ini adalah langkah konkret dalam menekan ketergantungan terhadap plastik konvensional,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Mohammad Masykuri, M.Si., Kaprodi S2 Ilmu Lingkungan UNS, mengingatkan bahaya mikroplastik yang kini ditemukan di berbagai media lingkungan, mulai dari udara, air sungai, hingga biota laut. “Mikroplastik berukuran di bawah 5 mm bahkan bisa menembus sel manusia. Dalam ukuran femto, mikroplastik dapat menembus organ dan jaringan tubuh. Ini sangat berbahaya karena mikroplastik menyerap polutan aktif seperti Bisphenol A, plasticizer, PAH, dan logam berat,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya perubahan gaya hidup reuse (guna ulang) dan pembatasan konsumsi plastik sekali pakai.

Dr. Dewi Gunawati, S.H., M.Hum., dosen Hukum Lingkungan UNS, menyoroti aspek hukum dan kesadaran warga negara. “Tahun 2040 polusi plastik diprediksi mencapai 23–27 juta ton. Kita membutuhkan komitmen setiap individu untuk mengurangi konsumsi plastik dan menumbuhkan rasa cinta serta tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya.

Sebagai bentuk simbolisasi, acara diakhiri dengan foto bersama lebih dari 100 peserta di depan instalasi kran raksasa yang mengucurkan limbah botol plastik. Karya instalasi ini merepresentasikan derasnya polusi plastik yang mencemari bumi. “Untuk menghentikan polusi plastik, kita harus menutup kran dari hulunya,” jelas Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Ecoton.

Ia menambahkan tiga langkah strategis untuk menekan polusi plastik:

1. Regulasi Pemerintah: Seperti kebijakan Pemprov Bali yang melarang penjualan air minum dalam kemasan di bawah 1 liter.
2. Tanggung Jawab Produsen: Tidak lagi memproduksi kemasan sachet dan wajib mengelola sampah kemasan yang dihasilkan.
3. Kesadaran Konsumen: Mengurangi penggunaan sachet, styrofoam, tas kresek, dan botol air minum sekali pakai.

Prigi Arisandi, founder Ecoton, menegaskan urgensi pengendalian mikroplastik. “Kami menemukan mikroplastik dalam air ketuban, ASI, feses, bahkan di permukaan kulit manusia. Ini berdampak pada sistem hormon, reproduksi, imun, dan metabolisme. Indonesia mendesak memiliki baku mutu mikroplastik dalam air minum dan seafood,” tegasnya.

Kampanye ini menjadi langkah awal gerakan kolektif akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk mendorong perubahan gaya hidup dan regulasi nasional demi menyelamatkan bumi dari krisis polusi plastik. TOK

Tinggal di Bantaran Kali Surabaya Seperti Hidup Bersama Risiko Penyakit

Surabaya, Timurpos.co.id — Kali Surabaya yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini justru menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sungai yang membelah kawasan padat penduduk ini mengalami pencemaran lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, menjadikannya sumber berbagai penyakit bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Jumat (20/06/2025).

Pencemaran yang bersumber dari limbah industri, rumah tangga, dan buruknya pengelolaan sampah telah menyebabkan penurunan drastis kualitas air sungai. Dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat sekitar yang masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi hingga mencuci.

Data lapangan menunjukkan bahwa terdapat empat jenis penyakit utama yang menyerang warga bantaran Kali Surabaya akibat pencemaran ini. Yang paling mendominasi adalah demam berdarah, diderita oleh sekitar 50% warga. Kondisi lingkungan yang lembap dan kotor menjadi sarang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyakit tersebut.

Tak hanya itu, penyakit kulit seperti gatal, ruam, dan infeksi juga dialami oleh 26% warga, disebabkan oleh kontak langsung dengan air yang telah terkontaminasi limbah kimia dan mikroorganisme berbahaya. Sementara itu, diare menyerang 23% warga, kebanyakan karena konsumsi air sungai tanpa proses pemurnian. Sisanya, sekitar 4%, mengalami penyakit lain seperti infeksi saluran pernapasan dan gangguan pencernaan, yang juga tak kalah berisiko terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Penyakit Akibat Pencemaran Kali Surabaya berdasarkan hasil penelitian terhadap masyarakat yang hidup di bantaran Kali Surabaya antara lain: Demam Berdarah 50%, Penyakit Kulit: 26%, Diare: 23%, Lainnya: 4%

Kondisi ini menjadi alarm darurat bagi semua pihak. Masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Surabaya kini harus hidup berdampingan dengan risiko penyakit setiap hari. Jika tidak segera ditangani, krisis kesehatan akibat pencemaran sungai ini akan semakin meluas.

“Bantaran sungai harus steril dari bangunan liar supaya kesehatan masyarakat tetap terjaga” ungkap Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton Foundation saat menyampaikan pada sesi Green Talks di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Sementara itu, mahasiswa ilmu komunikasi Untag bersepakat, diperlukan aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor — mulai dari edukasi lingkungan, penyediaan air bersih, perbaikan sistem sanitasi, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran. Kali Surabaya harus dikembalikan fungsinya sebagai sumber kehidupan, bukan sumber penyakit. TOK/*