Timur Pos

Wajah Terduga Pelaku Curanmor di Karangpilang Terekam CCTV, Korban Berharap Polisi Segera Bertindak

Surabaya, Timurpos.co.id – Satu unit sepeda motor Honda Vario dilaporkan hilang diduga menjadi korban pencurian di area kos-kosan Jalan Bogangin Baru I, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya, Rabu (7/10/2026)

Berdasarkan Surat Tanda Terima Laporan Pengaduan Masyarakat (STTLPM) yang diterbitkan SPKT Polsek Karangpilang, sepeda motor tersebut merupakan milik Haris Laksono.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB.

Saat itu, Haris memarkir sepeda motornya di area kos dalam kondisi setang terkunci. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar kos. Sekitar pukul 09.45 WIB, istri Haris hendak menggunakan sepeda motor tersebut untuk menjemput anak sekolah. Namun, kendaraan yang sebelumnya diparkir sudah tidak berada di lokasi.

Setelah dilakukan pengecekan, Haris mengetahui sepeda motornya telah hilang. Kendaraan tersebut merupakan Honda Vario tahun 2016 warna hitam dengan nomor polisi L 2824 TB.

Akibat kejadian tersebut, Haris mengaku mengalami kerugian materiil sekitar Rp14 juta.
Haris kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Karangpilang untuk ditindaklanjuti. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Menurut Haris, aksi pencurian tersebut terekam kamera CCTV yang terpasang di sekitar lokasi. Rekaman itu diharapkan dapat membantu kepolisian dalam proses penyelidikan, termasuk mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat.

“Saya berharap pihak kepolisian bisa segera menangkap pelakunya. Wajah pelaku sudah terekam CCTV, semoga rekaman tersebut bisa membantu polisi mengungkap dan menangkap pelaku,” ujar Haris, Rabu (7/10/2026).

Haris juga berharap sepeda motornya dapat segera ditemukan dan dikembalikan. Sebab, kendaraan tersebut selama ini digunakan sebagai sarana untuk mengantar dan menjemput anaknya sekolah.

“Semoga masih bisa kembali motor saya,” ucap Haris. Tok

Merajut Kebersamaan, Ansor dan PRKB Rabasan Rutinkan Dzikir-Sholawat

Kedundung, Timurpos.co.id – Malam yang tenang di Desa Rabasan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, terasa lebih sejuk. Puluhan pemuda tampak khusyuk melantunkan dzikir dan sholawat secara bersama-sama, pada Senin (5/10/2026) malam.

Kegiatan tersebut wujud nyata sinergi antara GP Ansor dan Pemuda Rabasan Kedungdung Bersatu (PRKB).

Kolaborasi apik ini sengaja dihidupkan untuk merawat tradisi keagamaan, sekaligus memperkuat persaudaraan.

“Dzikir dan sholawat adalah nutrisi batin bagi kita. Melalui majelis ini, berharap hati para pemuda senantiasa tenteram,” ungkap Ketua PR GP Ansor Desa Rabasan, Lora Ali Murtado.

Kiai yang akrab disapa Ra Tado ini menilai, pemuda adalah motor penggerak utama di tengah masyarakat.

Karenanya, ketahanan mental dan spiritual mutlak diperlukan agar tidak mudah goyah oleh arus modernisasi.

“Ikatan spiritual yang kuat akan melahirkan jiwa yang peduli. Pemuda harus menjadi teladan dalam menjaga kedamaian desa,” tegas Ra Tado.

Dilain sisi, semangat persatuan ini juga disambut antusias pengurus Pemuda Rabasan Kedungdung Bersatu (PRKB).

Kehadiran kedua organisasi kepemudaan tersebut, membuktikan perbedaan latar belakang bukanlah halangan untuk bersatu.

“Sinergi ini energi positif bagi kemajuan desa kita. Kalau bukan kita yang memulai kebaikan ini, siapa lagi?,” kata Sekretaris PRKB, Ach. Mustain.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas organisasi ini tidak akan berhenti sampai di sini.

Menurutnya, PRKB bersama GP Ansor siap berjalan berdampingan dalam mengawal syiar Islam.

“Kami berkomitmen untuk terus konsisten mengawal ajaran Islam ahlussunnah wal-jamaah. Warisan para ulama’ ini wajib kita jaga bersama,” pungkas Mustain. M12

Miris! Atlet Popda Kota Malang Berjuang Bawa Nama Daerah, Justru Diminta Biaya Sendiri

Malang, Timurpos.co.id – Sejumlah atlet yang sebelumnya dinyatakan lolos seleksi teknik Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV Jawa Timur 2026 mempertanyakan kebijakan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

Setelah menerima pemberitahuan hasil seleksi teknik dan diminta melengkapi data administrasi untuk mengikuti POPDA. Setelah semua kelengkapan dipenuhi, ternyata sejumlah atlet tiba-tiba tidak tercantum dalam daftar atlet yang diberangkatkan.

Hasil konfirmasi, ternyata Disporapar Kota Malang membatasi jumlah atlet yang diberangkatkan karena alasan efisiensi anggaran. Setiap cabang olahraga disebut hanya mendapatkan kuota sembilan atlet untuk diberangkatkan menggunakan pembiayaan pemerintah.

Persoalan semakin menuai sorotan karena atlet yang tidak masuk kuota tetap diberikan pilihan mengikuti POPDA melalui jalur mandiri. Namun, konsekuensinya tidak sekadar menanggung biaya keberangkatan sendiri.

Dalam surat pernyataan yang harus ditandatangani orang tua atau wali, atlet jalur mandiri diwajibkan membiayai sendiri kebutuhan selama POPDA, mulai dari seragam kontingen, konsumsi, penginapan hingga transportasi pergi-pulang.

Yang paling dipersoalkan adalah poin ketiga dan keempat dalam surat tersebut. Pada poin ketiga, orang tua/wali menyatakan bahwa atlet yang mengikuti POPDA secara mandiri melepaskan hak secara permanen atas segala bentuk klaim apresiasi, bonus, insentif maupun penghargaan finansial dan nonfinansial lainnya dari Pemerintah Kota Malang.

Sementara poin keempat memuat pelepasan dan pembebasan Pemerintah Kota Malang dari berbagai klaim maupun tuntutan yang berkaitan dengan cedera fisik, gangguan kesehatan, kecacatan, kematian, risiko keselamatan, hingga kehilangan atau kerusakan barang pribadi atlet selama rangkaian kegiatan.

Kebijakan tersebut sanget merugikan atlet. Di satu sisi, atlet tetap diminta berjuang membawa nama dan menjadi bagian dari kontingen Kota Malang. Namun di sisi lain, biaya ditanggung sendiri, sementara hak atas apresiasi maupun insentif dari pemerintah daerah dinyatakan dilepaskan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: jika atlet tetap membawa nama Kota Malang dan berprestasi di ajang resmi antarkabupaten/kota tingkat Jawa Timur, mengapa status mereka seolah berbeda hanya karena keberangkatannya menggunakan biaya mandiri?

Tidak hanya itu, besaran biaya yang harus disiapkan orang tua atlet juga menjadi persoalan tersendiri.

Untuk atlet yang bertanding di Surabaya, rincian kebutuhan per hari disebut mencapai Rp724.500. Rinciannya meliputi uang harian Rp100 ribu, hotel Rp287.500, kendaraan Rp190 ribu, nasi kotak Rp105 ribu, snack Rp20 ribu, extra fooding Rp10 ribu dan air mineral Rp12 ribu.

Selain biaya harian tersebut, terdapat kebutuhan perlengkapan yang terdiri dari kaos Rp150 ribu, sepatu Rp355.700, topi Rp45.100, celana training Rp110 ribu dan jaket Rp181 ribu.

Total kebutuhan perlengkapan tersebut mencapai Rp841.800. Jika digabungkan dengan komponen biaya lainnya, nilainya mencapai sekitar Rp1.566.300, belum termasuk akumulasi kebutuhan harian selama pelaksanaan pertandingan.

Sementara untuk atlet yang bertanding di Ngawi dan Kediri, kebutuhan per hari disebut mencapai Rp667 ribu, dengan rincian uang harian Rp100 ribu, hotel Rp200 ribu, kendaraan Rp220 ribu, nasi kotak Rp105 ribu, snack Rp20 ribu, extra fooding Rp10 ribu dan air mineral Rp12 ribu.

Sejumlah wali atlet dan pelatih pun mengaku kecewa dengan kebijakan tersebut.

Salah satu wali atlet yang meminta identitasnya tidak disebutkan menilai, atlet yang mengikuti POPDA merupakan representasi resmi Kota Malang sehingga seharusnya mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang layak dari pemerintah daerah.

Menurutnya, persoalan bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya kemampuan orang tua membiayai anaknya bertanding.

Yang dipersoalkan adalah ketika atlet tetap diminta membawa nama daerah, tetapi dibebani biaya sendiri sekaligus diminta melepaskan hak atas apresiasi apabila berhasil meraih prestasi.

“Atlet disuruh berjuang sebagai perwakilan daerah, dengan biaya sendiri. Saat menang, haknya tidak diberikan. Apakah ini bukan dzolim?” tegas wali atlet tersebut.

Wali atlet lainnya juga mengaku kecewa karena kebijakan tersebut dinilai berpotensi menciptakan ketidakadilan antara atlet yang dibiayai pemerintah dan atlet yang harus berangkat secara mandiri.

Mereka mempertanyakan apakah efisiensi anggaran harus berujung pada pengalihan hampir seluruh beban kepada orang tua atlet, termasuk risiko keselamatan dan hilangnya hak apresiasi.

Persoalan ini juga dinilai dapat berdampak terhadap pembinaan olahraga pelajar. Sebab, atlet yang telah melalui proses seleksi dan dinyatakan lolos seharusnya mendapatkan kepastian mengenai status keberangkatan, pembiayaan, perlindungan, serta hak mereka sebagai atlet yang membawa nama daerah.

Jika keterbatasan anggaran memang menjadi alasan utama, para wali atlet berharap pemerintah daerah memberikan skema yang lebih adil dan transparan, bukan sekadar memindahkan beban pembiayaan kepada orang tua.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, membenarkan adanya keterbatasan anggaran. Kondisi tersebut membuat jumlah atlet yang dapat diberangkatkan melalui pembiayaan pemerintah dibatasi.

Menurutnya, setiap cabang olahraga hanya mendapatkan kuota sembilan atlet yang diberangkatkan.

Kebijakan efisiensi anggaran memang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Namun, efisiensi semestinya tidak menghilangkan prinsip keadilan dalam pembinaan atlet.

Sebab, ketika seorang atlet tetap bertanding sebagai bagian dari kontingen Kota Malang, maka yang dibawa bukan hanya nama pribadi, melainkan nama daerah yang diwakilinya.

Dan ketika prestasi dituntut untuk mengharumkan nama Kota Malang, pertanyaan para wali atlet kini sederhana:

Mengapa ketika berprestasi atlet tidak boleh mendapatkan hak apresiasi, sementara ketika menghadapi biaya dan risiko justru harus menanggungnya sendiri? M12

Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Jual Beli Saham PT Surabaya Sore

Surabaya, Timurpos.co.id – Sidang lanjutan perkara dugaan pemalsuan surat terkait jual beli saham PT Surabaya Sore yang menjerat terdakwa Raditya Mohammer Khadaffi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Selasa (6/10/2026).

Dalam persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarti dan Damang Anubowo menghadirkan tiga saksi, yakni Eryck Wowor, Amos Henry Zainaldy Taka, dan Haryono Winarta.

Saksi Eryck Wowor yang merupakan Komisaris PT Surabaya Sore menjelaskan bahwa dirinya membeli saham perusahaan tersebut melalui proses yang dilakukan di hadapan notaris. Menurutnya, seluruh isi akta telah dibacakan oleh notaris di kantor notaris.

“Dalam klausul disebutkan perusahaan dalam keadaan baik dan tidak ada masalah,” ujar Eryck dalam persidangan.

Eryck mengatakan dirinya memiliki sekitar 1.500 lembar saham, sedangkan 1.500 lembar saham lainnya dimiliki Amos Henry Zainaldy Taka. Saham tersebut dibeli dari Istiwan Witjaksono pada 2020.

Namun, Eryck mengaku kemudian mendapatkan informasi bahwa saham tersebut telah dijadikan jaminan atau digadaikan kepada Bank Artha Graha Internasional Tbk. Atas informasi tersebut, dirinya bersama pihak terkait kemudian melaporkan terdakwa dan Istiwan ke Polda Jawa Timur.

Sementara itu, saksi Amos Henry Zainaldy Taka menerangkan bahwa dirinya merupakan pemegang saham PT Surabaya Sore dengan kepemilikan sekitar 1.500 lembar saham.
Amos mengaku telah mengenal terdakwa.

Menurutnya, Raditya merupakan direktur sekaligus pengurus perusahaan. Pembelian saham dilakukan pada 2020 dengan pembayaran sebanyak tiga kali, dan salah satu pembayaran diserahkan serta diterima oleh terdakwa.

“Untuk tanda tangan akta pembelian saham dengan Istiwan. Namun, untuk pembayaran bersama terdakwa Raditya,” terang Amos.

Saksi lainnya, Haryono Winarta, mengaku mengenal terdakwa. Ia menyebut dirinya bukan bagian dari direksi PT Surabaya Sore.

Sebelum membeli saham, Haryono mengaku ditawari oleh Istiwan dan terdakwa untuk berinvestasi di PT Surabaya Sore dengan iming-iming pembagian dividen sebesar 20 persen per tahun.

“Jangankan dividen, laporan keuangan saja saya tidak pernah menerima,” ujar Haryono.

Haryono mengatakan dirinya membeli sekitar 3 juta lembar saham dari Istiwan. Saham tersebut kemudian diberikan kepada Eryck dan Amos karena kesibukannya dan sering bepergian ke luar kota.

Haryono juga mengaku mengetahui bahwa saham tersebut kemudian digadaikan dan terjadi kredit macet. Menurutnya, persoalan tersebut berlanjut hingga adanya pembelian hak tagih atau cessie dari Bank Artha Graha Internasional Tbk oleh ayahnya.

“Setahu saya saham itu dimiliki keluarga besar terdakwa. Selain itu, muncul nama Lordna Putri Rintawati baru-baru ini. Dia (Lordna) bukan pengurus, tetapi pasti punya posisi di perusahaan,” pungkasnya.

Para saksi saat memberi keterangan di Pengadilan

Atas keterangan saksi, terdakwa Raditya membarah penandatangan nortaris dilakuan du Kantor Notaris, melainkan di Hotel Wildan dan yang tanda tangan bukan saya. Saya tidak ada hubungan hukum dalam perkara ini.

Jaksa mengajukan sejumlah barang bukti berupa dokumen terkait PT Surabaya Sore, transaksi jual beli saham, fasilitas kredit, gadai saham, jaminan, dan pengalihan piutang (cessie).

Barang bukti tersebut antara lain Akta Berita Acara Rapat PT Surabaya Sore Nomor 7 dan Nomor 9 serta Akta Perjanjian Jual Beli Saham Nomor 8, Nomor 10, dan Nomor 11, seluruhnya tertanggal 9 Januari 2020. Dokumen tersebut berkaitan dengan Istiwan Witjaksono, Haryono Winarta, Eryck Wowor, dan Amos Henry Zainaldy Taka.

Jaksa juga mengajukan Akta Perjanjian Kredit Nomor 057, Akta Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) Nomor 058, Akta Perjanjian Pemberian Jaminan Pribadi Nomor 059 dan 060, serta Akta Perjanjian Gadai Saham Nomor 061, 064, dan 067, masing-masing tertanggal 23 Agustus 2018. Akta gadai saham tersebut masing-masing berkaitan dengan Istiwan Witjaksono, Raditya Mohammer Khadaffi, dan Lordna Putri Rintawati.

Barang bukti lainnya berupa dokumen rekening dan transaksi keuangan, perubahan perjanjian kredit, surat saham sementara, surat peringatan, surat somasi, serta dokumen penutupan fasilitas kredit. Terdapat pula dokumen transaksi cessie senilai Rp1,7 miliar dan rekening Haryono Winarta senilai Rp3 miliar.

Untuk proses pengalihan piutang, Jaksa menghadirkan Akta Perjanjian Jual Beli Piutang Nomor 7 dan Akta Perjanjian Pengalihan Piutang (Cessie) Nomor 8, keduanya tertanggal 21 Februari 2025, beserta dokumen pemberitahuan dan persetujuan pengalihan piutang dari Bank Artha Graha Internasional Tbk, serta dokumen Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 102/2019 dan Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor 425/2018.

Barang bukti asli antara lain Akta Perjanjian Jual Beli Saham Nomor 8, 10, dan 11, serta Akta Perjanjian Kredit Nomor 057 dan Akta Perjanjian Gadai Saham Nomor 061, 064, dan 067. Nama-nama yang tercantum dalam rangkaian barang bukti tersebut meliputi Istiwan Witjaksono, Haryono Winarta, Eryck Wowor, Amos Henry Zainaldy Taka, Raditya Mohammer Khadaffi, Lordna Putri Rintawati, Sukma Maasawet, Edhi Susanto, S.H., M.H., dan David Teguh Ariyanto. Tok

Gugatan Eks Ketua STAI Bina Muwahhidin Ditolak, Kontrak 7 Tahun Dinilai Cacat Hukum

Surabaya, Timurpos.co.id – Gugatan mantan ketua dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bina Muwahhidin Adityo Nugroho terhadap Yayasan Bina Muwahhidin di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Surabaya kandas. Majelis hakim menolak seluruh dalil gugatan Adityo, termasuk tuntutan ganti rugi Rp 910 juta.

“Menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya,” ungkap majelis hakim yang diketuai Nyoman Ayu Wulandari dalam putusannya.

Adityo dalam gugatannya menuntut agar surat perjanjian kontrak kerja tentang pengangkatannya sebagai ketua perguruan tinggi Bina Muwahhidin dinyatakan sah. Namun, menurut majelis dalam Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan, perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) dibuat untuk paling lama lima tahun, sedangkan perjanjian Adityo dengan Yayasan Bina Muwahhidin berlaku selama tujuh tahun.

“Maka apa yang diperjanjikan penggugat dengan tergugat demi hukum dinyatakan melanggar peraturan perundang-undangan dan telah dinyatakan tidak sah atau batal demi hukum,” tutur majelis hakim.

Setelah tidak lagi menjabat ketua perguruan tinggi, Adityo sebenarnya tetap dan masih menjadi dosen. Namun, dia tidak pernah datang, bahkan ketika dipanggil yayasan hingga dua kali dalam kurun waktu lebih dari satu bulan, dia tetap mangkir. Karena itu, majelis berpendapat bahwa Adityo telah mengundurkan diri sebagai dosen tetap dan tidak berhak mendapatkan ganti rugi Rp 910 juta.

Adityo mendapatkan fasilitas kuliah S-3, utang kasbon pribadi, pinjaman lunak mobil, dan take over rumah pribadi dari pihak yayasan. Namun, sejak awal gugatan, angsuran utangnya kepada yayasan macet dan tidak pernah dibayarkan lagi. Berdasarkan ikrar wakaf, Adityo harus mengembalikan semua fasilitas bila keluar dari yayasan.

“Yayasan berharap itikad baik dan siap menuntut pengembalian semua fasilitas serta utang piutang pribadi Adityo, jika ini masih berlarut tanpa ada penyelesaian,” kata kuasa hukum Yayasan Bina Muwahhidin, Ludi K. Tok

HUT TNI ke-81, Ketua PRKB Sampang Ajak Pemuda Perkuat Sinergi

Sampang, Timurpos.co.id – Momentum Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (HUT TNI) ke-81 disambut penuh semangat oleh jajaran pemuda di Kabupaten Sampang.

Ketua Pemuda Rabasan Kedungdung Bersatu (PRKB) Kabupaten Sampang, Abd Kudus, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi prajurit TNI.

“Selamat HUT TNI ke-81. Terima kasih atas seluruh pengabdian dan pengorbanan dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tuturnya, Senin (5/10/2026).

Menurut Kudus, kehebatan TNI tidak lepas dari kemampuannya untuk terus melangkah dan berjuang bersama masyarakat.

“TNI bukan hanya benteng pertahanan negara, tetapi juga sahabat sejati rakyat yang selalu hadir di tengah kesulitan,” tuturnya.

Ia menekankan, sinergi antara TNI dan elemen pemuda merupakan kunci utama menciptakan stabilitas daerah yang aman dan kondusif.

“Sinergitas ini adalah fondasi kokoh untuk merawat persatuan, menjaga keamanan, dan membangun daerah yang modern,” jelas Kudus.

Memanfaatkan momentum bersejarah ini, PRKB mempertegas komitmennya untuk terus menebarkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.

“Kami siap bergandengan tangan dengan TNI dalam mengawal pembangunan dan memajukan bangsa,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Kudus mengajak pemuda Sampang khsusnya pemuda Rabasan, untuk terus berkontribusi positif demi masa depan Indonesia.

“TNI kuat bersama rakyat, pemuda bersatu Indonesia maju. Mari jaga semangat kebersamaan ini demi keutuhan NKRI. Dirgahayu TNI ke-81! TNI Prima, modern, dan makin dicintai rakyat,” pungkasnya. M12

Sony Setio Bagus Divonis 10 Tahun 6 Bulan, R. HariyantoAjukan Banding

Foto: kuasa hukum terdakwa, R. Hariyanto 

Surabaya, Timurpos.co.id – Sony Setio Bagus (19), warga asal Pasuruan, divonis pidana penjara selama 10 tahun 6 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Ia dinyatakan bersalah dalam perkara persetubuhan terhadap anak. Putusan tersebut dibacakan Ketua Majelis Hakim Edi Saputra Palawija dalam persidangan di Ruang Kartika PN Surabaya, Senin (5/10/2026).

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal alternatif pertama yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wanto dari Kejaksaan Negeri Surabaya.

“Terdakwa melanggar Pasal 473 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana,” ujar hakim.

Atas putusan tersebut, kuasa hukum terdakwa, R. Hariyanto, menyatakan keberatan. Pihaknya memastikan akan menempuh upaya hukum banding.

Menurut Hariyanto, putusan majelis hakim masih terlalu berat bagi kliennya. Sebelumnya, JPU Wanto menuntut Sony dengan pidana penjara selama 11 tahun.

“Tuntutannya 11 tahun, lalu diputus 10 tahun oleh majelis hakim. Kami menilai putusan tersebut masih terlalu berat. Hari ini kami resmi mendaftarkan kuasa untuk upaya hukum banding dan akan kami kawal hingga tingkat kasasi,” kata Hariyanto.

Dalam upaya banding tersebut, tim penasihat hukum akan mempersoalkan sejumlah hal, termasuk kronologi hubungan antara terdakwa dan korban.

Hariyanto menyebut terdakwa dan korban berkenalan melalui media sosial sekitar empat hingga lima bulan sebelum peristiwa yang menjadi perkara tersebut. Berdasarkan penilaian pihaknya, hubungan keduanya disebut berlangsung atas dasar suka sama suka.

“Dari awal keluarga melihat ini ada unsur suka sama suka, mengingat usia korban saat itu 16 tahun. Bahkan, keluarga terdakwa dari awal sudah beritikad baik dan berniat untuk bertanggung jawab dengan menikahi korban, namun pihak korban tidak berkenan,” ujarnya.

Hariyanto juga menyebut keluarga terdakwa sempat mendatangi Polrestabes Surabaya beberapa kali untuk mencari jalan mediasi. Namun, menurut dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Selain itu, pihak penasihat hukum mempertanyakan sejumlah hal dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang menurut mereka belum dijelaskan secara terperinci.

“Dalam BAP tidak dijelaskan secara detail bagaimana posisi atau proses terjadinya hubungan tersebut. Terkait visum, memang ada luka robek searah jarum jam 5, 6, dan 8 akibat penetrasi, namun hal itu perlu didalami lagi mengenai dinamika kejadian sebenarnya,” kata Hariyanto.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dari pihak penasihat hukum terdakwa dalam mengajukan keberatan terhadap putusan pengadilan.

Saat ini, tim penasihat hukum masih menunggu salinan resmi putusan PN Surabaya. Salinan tersebut akan menjadi dasar bagi mereka untuk menyusun memori banding yang selanjutnya diajukan melalui PN Surabaya ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur. Tok

PRKB Sampaikan Ucapan HUT TNI ke-81

Surabaya, Timurpos.co.id – Ketua Umum PRKB (Pemuda Rabasan Kedungdung Bersatu), Imam Buhori, menyampaikan ucapan selamat dan penghormatan kepada seluruh keluarga besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) TNI Ke-81.

Melalui momentum peringatan tersebut, Imam Buhori menyampaikan apresiasi atas pengabdian TNI dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus menjalankan tugas dalam memberikan rasa aman bagi masyarakat.

“Selamat HUT TNI ke-81. Semoga TNI senantiasa semakin profesional, modern, tangguh, solid, serta terus bersama rakyat dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI,” ujar Imam Buhori, Minggu (04/10/2026).

Menurut Buhori, semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat merupakan bagian penting dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu, generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat nasionalisme, persaudaraan, gotong royong, serta kecintaan terhadap Tanah Air.

Sebagai organisasi kepemudaan, PRKB menyatakan komitmennya untuk terus mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, harmonis, dan menjunjung tinggi persatuan.

“TNI dan rakyat adalah bagian dari kekuatan bangsa. Mari kita jadikan HUT TNI ke-81 sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga semangat kebangsaan, dan bersama-sama membangun Indonesia yang maju,” pungkas Imam Buhori.

Peringati Maulid Nabi, Yayasan Langgar Mas Adah Gelar Sunatan Massal untuk 100 Anak

Surabaya, Timurpos.co.id – Yayasan Langgar Mas Adah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan kegiatan sosial berupa sunatan massal bagi 100 anak, di Jalan Sidodadi III, Surabaya. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (3–4 Oktober 2026).

Rangkaian acara diawali dengan pengajian dan ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Abdullah Samsul Arifin dari Jember. Dalam ceramahnya, ia mengajak para jamaah untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW serta menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda sejak dini.

Selain sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi, kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian sosial Yayasan Langgar Mas Adad terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yang mengikuti sunatan massal.

Pengasuh Yayasan Langgar Mas Adah KH. Gus Muhammad Akbar, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk melahirkan generasi yang berbakti, berilmu, dan berakhlak luhur,” ujarnya.

Sebanyak 100 anak mengikuti kegiatan sunatan massal dengan didampingi orang tua masing-masing. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian yayasan terhadap kesehatan anak sekaligus upaya mempererat hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi sarana meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Ari

Korban Terus Bermunculan, Arisan Online MS Blesse Bigget Diduga Telan Kerugian Hampir Rp1 Miliar

Surabaya, Timurpos.co.id — Puluhan orang yang mengaku menjadi korban dugaan persoalan arisan online MS Blesse Bigget mendatangi Kantor Hukum D. Firmansyah & Partner, Jl. Jagalan I No. 16, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Kedatangan para korban dilakukan untuk meminta pendampingan hukum setelah mereka mengaku mengalami kerugian yang jika dihitung sementara disebut kurang lebih hampir Rp1 miliar.

Para korban membawa berbagai bukti, di antaranya bukti transfer dan percakapan terkait aktivitas arisan. Mereka diterima oleh tim kuasa hukum Dodik Firmansyah, S.H. dan Sukardi, S.H.

• Kerugian Korban Mulai Rp5 Juta hingga Rp400 Juta

Dodik Firmansyah, S.H. mengatakan pengaduan yang diterima pihaknya saat ini sudah berasal dari puluhan korban.

Nilai kerugian masing-masing korban disebut bervariasi. Ada yang mengaku mengalami kerugian sekitar Rp5 juta, sementara korban lainnya menyebut kerugiannya mencapai Rp300 juta hingga Rp400 juta.

Jika seluruh pengaduan yang telah masuk dihitung sementara, nilai kerugian disebut kurang lebih hampir Rp1 miliar.

“Yang sudah datang dan mengadu kepada kami sudah puluhan korban. Nilai kerugiannya bervariasi, ada yang Rp5 juta, Rp20 juta, Rp35 juta, bahkan ada yang Rp300 juta sampai Rp400 juta. Kalau ditotal sementara, kerugiannya kurang lebih hampir Rp1 miliar,” ujar Dodik.

Dodik menegaskan angka tersebut masih merupakan perhitungan awal berdasarkan keterangan dan bukti yang disampaikan para korban, sehingga belum menjadi hasil audit resmi.

• Korban Mengaku Dana Tak Kunjung Cair

Salah satu korban berinisial S mengaku awalnya hanya mengikuti satu slot arisan. Karena pada awalnya berjalan lancar, ia kemudian menambah kepesertaannya hingga empat slot.

Namun, ketika tiba waktunya menerima pencairan, dana yang diharapkan disebut tidak kunjung diterima.

“Saya saja rugi Rp35 juta. Teman saya ada yang Rp50 juta, ada yang Rp20 juta. Kami ini puluhan orang,” ungkap S.

Keterangan tersebut kini menjadi bagian dari data yang dikumpulkan tim kuasa hukum bersama bukti transaksi dan komunikasi para korban.

• Kuasa Hukum Dalami Dugaan Pengelolaan Dana

Para korban menduga terdapat persoalan dalam pengelolaan dana arisan online MS Blesse Bigget. Mereka juga menduga mekanisme yang digunakan menyerupai skema Ponzi.

Dugaan tersebut masih dalam tahap pendalaman. Tim kuasa hukum akan mencocokkan keterangan para korban dengan bukti transfer, percakapan, serta dokumen lain yang diserahkan kepada mereka.

Dodik Firmansyah, S.H. dan Sukardi, S.H. menyatakan pendataan terus dilakukan untuk mengetahui jumlah korban serta nilai kerugian secara lebih akurat.

• Akan Layangkan Somasi

Sebagai langkah awal, Kantor Hukum D. Firmansyah & Partner menyatakan akan melayangkan somasi resmi kepada pihak yang disebut sebagai pengelola atau owner MS Blesse Bigget.

Tim kuasa hukum memberikan waktu 3 x 24 jam untuk memberikan tanggapan serta menyelesaikan persoalan hak para korban.

Somasi tersebut disebut menjadi langkah awal sebelum menempuh proses hukum lebih lanjut.

• Akan Laporkan ke Aparat Penegak Hukum

Apabila somasi tidak mendapat respons atau tidak menghasilkan penyelesaian, tim kuasa hukum menyatakan akan melaporkan dugaan perkara tersebut kepada aparat penegak hukum.

Dodik Firmansyah, S.H. dan Sukardi, S.H. mengatakan laporan akan disiapkan berdasarkan bukti dan keterangan yang telah dikumpulkan dari para korban.

“Kami akan melaporkan persoalan ini kepada aparat penegak hukum. Kami akan kawal laporan para korban sampai ada kepastian hukum,” tegas Dodik.

• Alamat yang Disebut Berkaitan dengan Owner

Dalam proses pendataan, pihak korban dan kuasa hukum menyebut nama Pratiwi Novia Wijayanti sebagai owner yang dikaitkan dengan MS Blesse Bigget.

Alamat yang disampaikan kepada tim kuasa hukum berkaitan dengan yang bersangkutan berada di Jl. Manukan Tengah III Blok 6 I/1, Tandes, Kota Surabaya.Alamat tersebut dicantumkan berdasarkan informasi yang disampaikan kepada pihak kuasa hukum dan belum diverifikasi secara independen oleh media ini.

• Owner Belum Memberikan Tanggapan

Untuk mendapatkan keberimbangan informasi, media ini telah berupaya meminta konfirmasi kepada Pratiwi Novia Wijayanti selaku owner melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon.

Namun, hingga berita ini disusun, yang bersangkutan belum memberikan respons terhadap permintaan konfirmasi tersebut.

Media ini tetap membuka ruang bagi Pratiwi Novia Wijayanti maupun pihak MS Blesse Bigget untuk memberikan klarifikasi, tanggapan, ataupun hak jawab terkait dugaan persoalan yang disampaikan para korban.

• Posko Pengaduan Dibuka

Kantor Hukum D. Firmansyah & Partner juga membuka posko pengaduan bagi pihak lain yang merasa mengalami kerugian dalam persoalan arisan online tersebut.

Pendataan dilakukan untuk mengetahui jumlah korban, nilai kerugian, serta rangkaian transaksi secara menyeluruh sebelum langkah hukum ditempuh. M12