Timurpos.co.id – Lau Andree dituntut dengan Pidana penjara selama 5 tahun terkait perkara pemalsuan surat secara berlanjut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yulistiono dari Kejakasaan Tinggi Jawa Timur di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Senin, (12/12/2022).
JPU Yulistiono mengatakan bahwa, terdakwa Lau Andree terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak Pidana pemalsuan surat secara berlanjut, sesuai dengan dakwaan pertama Pasal 263 ayat 1 KUHPidana
“Terhadap terdakwa dituntut dengan Pidana penjara selama 5 tahun.” Kataย JPUย Yulistionoย dihadapanย Majelis Hakim di ruang candra PN Surabaya.
Atas tuntutan dari JPU, Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa melalui penasehat hukumnya untuk mengajukan pembelahan (Pledoi) baik secara tertulis maupun secara lisan.
Untuk diketahui berdasarkan surat dakwaan dariย JPUย menyebutkan bahwa, berawal saat terdakwaย Andreeย yang mengenalkan diri sebagai Mrย Lauย Andreeย itu menyelenggarakan Seminarย Financialย Breakthroughtย Communityย di sejumlah hotel ternama di Surabaya dan jugaย diiklankanย di radio swasta.
Di dalam seminar itu terdakwaย Andreeย menawari pesertanya program investasiย SIJAKAย DT. Yakni, usaha koperasi di bidang dana talangan. Keuntungannya 6% setiap bulan dari modal yangย diinvestasikan. Terdakwa menjelaskan bahwa program tersebut mempunyai jaminan keamanan bagi orang yang berinvestasi langsung di bawah naungan Koperasi Sekawan Jayaย Sejahteranย sub golonganย Goldenย Member.
Lihat Juga : Kho Handoyo Santoso Jadi Pesakitan Terkait Pemalsuan Surat
Investasi itu digunakan untuk dana talangan orang lain yang mengajukan oper kredit di bank. Paling lama hanya dua pekan dana talangan yang dipinjamkan kepada orang yang membutuhkan dana talangan sebagai dana untuk sementara menalangi oper kredit bank. Setelah orang yang membutuhkan dana talangan untuk oper kredit bank tersebut cair, pinjaman dana yang dipinjamkan dari Program SIJAKA DT baru dikembalikan oleh orang yang membutuhkan dana talangan tersebut.
Menurut JPU, terdakwa dalam seminar tersebut juga menunjukkan foto-foto saat bersama dengan para pejabat dinas koperasi serta perusahaan-perusahaan ternama hingga mengeklaim punya plasa grup di Surabaya. Presentasi terdakwa itu menarik minat delapan peserta seminar untuk berinvestasi.

Kedelapan peserta itu kemudian menandatangani perjanjian kerjasama untuk berinvestasi dalam program SIJAKA DT. Namun, saat penandatanganan kerjasama itu, terdakwa Andree menggunakan nama I Gede Andreyasa. Nama itu merupakan identitas palsu. Selain menggunakan nama palsu Gede, Andree saat menandatangani kerjasama dengan investor bernama Johanes Julianto juga menggunakan nama palsu Tanusudibyo Andreas.
Berdasarkan surat keterangan yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Badung, Bali, nama I Gede Andreyasa tidak sesuai dengan database sistem informasi administrasi kependudukan.
Kedelapanย investoย yakniย Johannesย Julianto,ย Januarย Gomuljo,ย Gwandย Rakusumaย Setia Putra, Agusย Sutikno,ย Wihartonoย Mastan,ย Lieย Tjieย Tjong, Hadiย Winata,ย Tiongย Kimย atau Candra Gunawan danย Ottoย Rudiantoย Widjaja
itu telah berinvestasi dengan nilai yang berinvestasi. Nilainya, satuย investor ada yang menginvestasikan uangnya hingga Rp 5 miliar. Misalnya,ย Johanesย yang telah berinvestasi Rp 5,1 miliar. Total nilai investasi dari kedelapan peserta itu Rp 19,2 miliar.
Lihat Juga : Nurhadi : Perkara Dugaan Pemalsuan Surat Sudah SP3 Oleh Polrestabes Surabaya
Terpisah penasehat hukum terdakwa selepas sidang menerangkan bahwa, tuntutan JPU terkait pemalsuan surat perjanjian dan nama itu, dilakukan bersama dengan korban dengan kesepakatan, tujuannya menghindari pajak.
“Kedua pihak mengetahui perjanjian dan KTP yang digunakan,” kataย Mokharimย selapasย sidang.ย Ti0


























